Friday, 30 December 2016

Behind the story "om telolet om"



Behind the story “om Telolet om”
(Versi di sebuah Desa di daerah Cirebon, Kuningan)



Sebut saja Kurni dia lebih tua usia 4 tahun dari saya, wajahnya memang cantik, cantik alami gadis desa, lahir dari keluarga yang sederhana. Dia dulu adalah teman main saya ketika saya sering liburan sekolah di sebuah desa di Cirebon Kuningan sebut saja Desa itu bernama Desa Welas,
Rata-rata di desa welas penduduknya adalah petani dan pengrajin bambu, bambu dibuat bilik yang dulu dibuat sebagai dinding rumah hmmm sampai sekarang pun ada seperti rumah kurni rumahnya masih setengah bilik, lantainya masih tanah merah,  kamar nya pun masih disekat dengan bilik dengan ruangan yang lainnya.

Selepas sekolah dasar Kurni tidak melanjutkan sekolahnya karena dia anak ke dua dari lima bersaudara kakaknya sudah menikah sedangkan ke tiga adiknya semua laki-laki, otomatis jadilah dia sebagai ibu kedua bagi keluarganya dia yang mencuci  baju seluruh keluarganya dan memasak karena kedua orangtuanya menghabiskan hampir tiga perempat harinya menggarap sawah. Selama menunggu panen bapaknya membuat anyaman bambu, dengan dibantu ketiga adik-adiknya.  Ketika usianya genap 15 tahun, Kurni ditawari kerja di sebuah restoran pinggir jalan raya tempat isitirahat para bis luar kota, selang dua tahun dia bekerja disana, dia kenal dengan seorang laki - laki bernama Sastra mungkin karena seringnya tiap hari bertemu timbul rasa suka pada keduanya, dan akhirnya mereka menikah tapi Kurni bukan sebagai wanita pertama,  dari pernikahan Satra , waktu itu Bapak dan ibunya serta kakaknya sudah memperingati agar tidak terburu-buru menikah tapi cinta sudah berkata lain, walaupun hanya menikah siri  dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman Sastra yeng berprofesi sebgai supir dan kernet.

Beberapa bulan kemudian Kurni hamil dan dia berhenti dari tempat kerjanya,  Sastra sang suami dalam sebulan hanya datang dua atau tiga kali mengngunjunginya, tapi sebagai janjinya setiap lewat ujung jalan didesanya Sasta akan memencet klakson sebagai pengganti kehadirannya, dan sebagai obat kengen kepada Kurni. Dan hal itu ditepatinya Kurni hanya tersenyum kemudian mengelus perutnya yang semakin membesar telolet,, telolet,, bapakmu lewat nak, bisiknya pelan,,,

Dan ketika anaknya lahir Sastra begitu senang karena Kurni melahirkan seorang anak laki-laki konon katanya istri pertamanya  tidak mempunyai anak, dan anak itu diberi nama Ari,  walaupun itu tetap tidak merubah kunjungan Sastra ke Kurni akhirnya dari uang yang diberikan Sastra Kurni dapat membuat rumah sederhana   yang berjarak 200 meter dari rumah orangtuanya, ketika anaknya sudah bisa bicara Ari pernah berkata kepada Bapaknya,

 “kunaon Bapak teh gening teu bisa meting di imah lila, ngan dua dinten terus indit,,? (kenapa bapak ngga bisa lama tinggal dirumah cuma dua hari terus pergi?)

“Bapak teh,, milarian icis jeng sekolah Arinya, jadi ari kudu pinter, jaga mimih,,,!” Tapi Bapak jangji mun bapak liwat di jalan harep bapak nyalukan mimih jeng Ari  Tet,, tet,,, eta artina Bapak kangeng ka Ari jeng Mimihnya!” kata Sastra sambil memeluk anaknya erat. (Bapak harus cari uang, jadi Ari harus pinter jaga mimih ya, tapi Bapak janji kalau lewat jalan depan desa bapak akan mencet klakson tet,,tet,, itu artinya bapak kangen sama Ari dan Mimih ya,,,)

“Sanes tet,,tet,, Bapak cek Mimih mah,, telolet ,, telotet kitu” (bukan tet bapak tapi kata mimih telolet telolet gitu ).

Ari dan Kurni selalu tahu jadwal bapaknya memencet klakson yaitu pada pukul 12 lewat,  dan menjelang maghrib dia hapal betul suara klakson bapaknya walaupun semua bis rata-rata sama bunyinya, dia akan bilang ke mimihnya

 “Bapak,, mihhh!”  dan Kurni hanya mangaguk dan tersenyum kelu mungkin menahan rasa kangen atau sedih yang tertahan.

Ketika usia Ari 5 tahun tepat waktu itu hari minggu Bapaknya mengajak Ari untuk sholat shubuh di mushola depan balai desa  selama berjalan ke mushola Ari digendong di belakang dan tidak henti dari mulut keduanya bersenandung telolet telolet,, dan ternyata itu hari terakhir dia bersama bapak gendongan terakhir sang Bapak , karena beberapa hari Sastra tidak lagi datang waktu itu belum ada telpon genggam, Kurni mendapat berita dari kernet yang bernama Iwan  yang datang kerumahnya bahwa Sasta mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat. Iwanpun terluka tapi tidak terlalu parah. Waktu itu Kurni hanya bisa menagis dan memeluknya erat Ari dan berkata bahwa Bapak tidak akan datang lagi kesini karena telah pergi jauh,. Ari tidak mengerti dia hanya ikut menangis, Iwan iba dan mengendong Ari,,

 “Ari,,,,  Om jangji om ngke datang kedie  deui ulin jeng Ari jeng mencet klaksan kanggo Ari jeng Mimihnya,” kata Iwan sambil mengelus kepala Ari. (Ari om janji om akan sering main kesini dan memencet klakson buat Ari dan Mimih ya)

Dan tepat ketika siang itu jam 12;30 klason terdengar tapi Ari seakan tahu mungkin ada kontak batin,, hatinya tidak seriang dulu matanya tidak berbinar seperti sebelum-sebelumnya,,, berkata kepada mimihnya

“Sanes Bapak ,,, mih,,!” ujarnya pelan sambil terisak,,  (bukan Bapak,, mih.!”)

“nya,, Ari,,, eta Om Iwan…! Jik atuch tingali kajalan esukannya, mugi aya Bapak ningalian Ari ti jauh,,,!” kata Kurni sambil membelai rambut Ari. (Iya Ari,, itu Om Iwan coba Ari kejalan besok mudah-mudahan Bapak melihat Ari dari jauh,,)

“Aya bapak kitu di bis,,ningalian Ari,,,?” kata Ari mulutnya kembali tersenyum. (Ada Bapak di bis melihat Ari?..)

Kurni hanya mengangguk sambil tersenyum. Dan semenjak itu Ari selalu berlari ke depan jalan menunggu bis yang dulu disupiri Bapaknya dan ketika lewat dia akan berteriak Om telolet om,,, dan Iwan sang Supir yang menggantikan Sastra sang Bapak, sudah hafal betul sambil melambaikan tangngannya dia memencet klakson,  ada rasa bahagia dan kegembiraan yang lain walaupun Ari tahu sang bapak tidak pernah datang lagi dan dia akan berlari pulang penuh dengan tawa
____


Ari dan Kurni tidak tahu bahwa “om telolet om” sudah mendunia dan kini usia Ari sudah 17th dan dia pun tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan ketika kecil kini menjadi fenomenal, Ari menjadi pemuda yang lebih pendiam dari yang lain,  sekarang dia bekerja di pabrik rotan sekolahnya pun hanya lulusan sekolah dasar  dan Kurni telah menikah lagi kadang kata Kurni  pernah sesekali melihat Ari duduk di ujung jalan sambil menatap bis yang lewat entah apa yang ada di dalam hatinya, mungkin masih ada rasa kangen atas kehadiran sang Bapak.


(ini hanya sebuah versi lain yang saya tahu dan tidak tahu apakah om telolet om yang sedang mendunia ada cerila lainnya lagi... )


10 comments:

  1. Jadi versi alisnya Pak telolet Pak ya :)
    saya tahu cirebon dan kuningan itu dua kabupaten di Jawa Barat yang berbeda daerah. Hanya berbatasan memang.

    ReplyDelete
  2. Setahuku juga fenomena ini udah lama ya mba :)

    ReplyDelete
  3. Aku rada roaming baca nya, ngak ngerti sunda pisan euy hahaha tapi tetep telolet om hahaha.

    Telolet mah udah lama banget lho, tapi orang2 aja kepo sekarang

    ReplyDelete
  4. Saya baru tau om telolet om baru2 aja waktu heboh2 itu. Beberapa waktu yang lalu sempat bingung juga saat ada yang melemparkan candaan dengan om telolet om. Ga paham saya :D

    ReplyDelete
  5. Ternyata ada cerita dibalik om tolelot om ya...? Saya kira hanya kebiasaaan anak-anak.

    ReplyDelete
  6. Hahaaa.. oh itu toh ternyata. Dalam juga ya. Kirain cuma sekadar gimiks penyambut tahun baru... hihi

    ReplyDelete
  7. udah bertahun2 lalu emang ya si telolet ini nih..cuma karena viral jadi terkenal seperti sekarang. Ah, bahagia itu emang sederhana

    ReplyDelete
  8. Wahhh maap baru komen,, sedih euy ngebayanginnya... ga tega

    ReplyDelete
  9. Beragam versi yaaa...
    Terharu kisahnya :(

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan jejak di blog saya mudah-mudahan bermanfaat, nanti insyaAllah saya akan balik meninggalkan jejak,,, salam persahabatan selalu,