Thursday, 27 July 2017

Memperkenalkan Toleransi pada Anak Lewat Buku




Pernahkah kita mengajarkan pada anak-anak kita untuk bersikap “toleransi”  kepada teman-temannya sejak usia dini? Kadang hal itu tidak terpikir sama sekali kita hanya menginginkan anak-anak kita di tempat yang aman dan bermain dengan anak-anak yang tentunya juga baik. Padahal sikap toleransi itu sangat penting dalam kehidupan sehari-sehari,  sejak diri harus menghargai perbedaan  yang dimiliki orang lain baik itu warna kulit, tingkatan sosial, agama  dan juga harus bisa menjadi diri sendiri.

Toleransi akhir-akhir jadi topik yang hangat dibicarakan. Topik ini sebetulnya relevan bagi semua kalangan, tapi nampaknya hanya sebatas pembicaraan orang dewasa. Berawal dari cerita seorang teman, penulis Sekar Sosronegoro pun menyayangkan jika seorang anak tidak bisa menjadi dirinya sendiri hanya karena takut dicap berbeda sehingga ia tidak punya teman.
 
"Sayang banget kalau anak tidak bisa jadi dirinya sendiri hanya karena dia takut tidak punya teman."
Dari pengalaman itulah akhirnya Sekar memutuskan untuk menulis ceria serial “KITU, Kucing Kecil Bersuara Ganjil “ yaitu serial buku toleransi, buku ini bisa menjadi perantara “obrolan” orangtua terhadap anaknya.
Pada hari kamis bertempat di @america Pasific plaza Jakarta Selatan selain menghadirkan Sekar sang penulis juga menghadirkan Najelaa Shihab, (praktisi pendidikan), Suzy Hutomo (Boddy Shop), Nia Dinata (sutradara) dan Dira Sugandi (penyanyi) dengan tema  “Our Children and Tolerance”
press releas buku KITU atamerica
Menurut Nia Dinata penanaman toleransi memang penting dimulai sejak dini. Menurutnya, apresiasi masyarakat terhadap film seakan makin bergeser. Pertanyaan seputar hal-hal yang menurut mereka berbeda semakin tajam. "Ada yang tanya, karakternya agamanya apa. Kalau dulu arahnya lebih ke teknis dan sebagainya, lalu makin ke sini pertanyaannya makin kuat. ada penilaian orang agak bergeser," ujarnya.

Selain Nia, praktisi pendidikan, Najelaa Shihab pun angkat bicara. Buku akan menjadi salah satu alat bagi orang tua dalam rangka memperkenalkan dan mengajarkan toleransi pada anak. Namun jika lingkungan di sekitar anak sudah sedemikian homogen, maka kewajiban orang tua untuk menghadirkan sesuatu yang heterogen bagi anak. Hal ini akan membuat anak terbiasa dengan hal yang berbeda di sekitarnya.
cover serial buku KITU

"Anak kecil itu observer yang baik, hanya saja mereka itu very bad interpreter. Nah orang tua di sini membantu anak menerjemahkan atau interpretasi yang memang menghargai. Jangan mengajarkan anak menjadi takut," ucapnya.

Sekar mengatakan, buku Kitu ini dapat dibaca anak-anak dari berbagai usia. Anak usia 0-6 tahun dan bisa dibacakan oleh orang tua kemudian dari sini akan muncul obrolan seputar perbedaan yang mungkin selama ini jarang diangkat sebagai bahan pembicaraan
Buku ini akan berguna untuk anak-anak yang akan memasuki dunia baru misalnya mau masuk usia sekolah karena di situ anak akan bertemu banyak teman dari berbagai latar belakang. Mudah mudahan buku ini bisa jadi bekal untuk mereka, agar mereka tidak judgemental sama orang yang berbeda," jelas Sekar.

Setelah buku Kitu, lanjutnya, ia berkata akan ada buku berikutnya dalam seri buku toleransi.Ia menyadari bahwa sebelum toleransi, maka perlu untuk menerima perbedaan. Rencananya, buku-buku berikutnya masih merupakan elemen toleransi, misalnya prasangka. Sekar mengatakan sudah menyiapkan tiga cerita. Ia berharap, bukunya dapat diterima publik, khususnya anak-anak Indonesia."Saya ingin anak Indonesia itu merasa dicintai tanpa perlu menjadi orang lain," katanya lagi
Buku dengan format paperback 32 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Buah Hati ini bercerita tentang Kitu, seekor kucing yang baru pindah rumah, menyadari bahwa dirinya tidak sama dengan kucing-kucing di sekitarnya,, kitu yang semula percaya diri mulai berusaha meniru penampilan kucing-kucing lain, sebelum akhirnya sadar bahwa setiap kucing memang terlahir berbeda,
Lewat buku pertama ini, Sekar ingin membantu mengngenalkan konsep perbedaan dan keragaman pada anak-anak sejak usia muda karena anak yang terbuka pada perbedaan  lebih memiliki kompetensi sosial, sebuah keterampilan yang sangat berguna mengingat kita hidup dalam masyarakat yang beragam.
Buku ini dapat dibeli mulai tanggal 20 Juli di Gramedia, Gunung Agung, TMbookkstore, Togamas, dan e-comerse, tokobaca.com, bukukita.com dan Tokopedia.


10 comments:

  1. Banyak cara untuk memperkenalkan toleransi ya mba. Dukung nih kalau toleransi kepada anak dilakukan melalui buku

    ReplyDelete
  2. Buku memang salah satu media yang saya gunakan mba untuk mengajarkan kepada anak karena cerita-cerita dibuku mengandung pesan moralnya yang dikemas dengan cerita n tokoh yang disukai anak.
    Ngomongin toleransi pas banget ini aku pengen beli jadinya apalagi tokohnya kucing kesukaan anakku :)

    ReplyDelete
  3. Wah bagus juga buku ini, mengenalkan perbedaan pada anak lewat cerita si Kitu. Pasti lebih mudah dipahami oleh anak.

    ReplyDelete
  4. wah keren caranya menangkap ide cerita judulnya juga menarik temanya bagus ajarin toleransi

    ReplyDelete
  5. ide bukunya keren, saya jadi ingin baca juga. Makasi infonya mba

    ReplyDelete
  6. Wah, bukunya bagusss. Dijual secara umum kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas paragrap terakhir ada kan keterangannya dimana kita bisa beli

      Delete
  7. Emang buku itu banyak kegunaannya, aku pun suka ngajarin raya lewat buku.. jadi anak lebih mudah ngerti, apalagi kalau ada gambar2 ceria & gede2, raya lebih suka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mba sandra... buku yg bentuk seperti itu lebih mudah mereka pahami

      Delete
  8. Buku yang keren banget ini, apalagi tokohnya kucing ya. Anak2 ga bakalan berasa kayak lagi belajar ttg toleransi. Memang 1 hal yang harus banget2 diajarkan ke anak2.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan jejak di blog saya mudah-mudahan bermanfaat, nanti insyaAllah saya akan balik meninggalkan jejak,,, salam persahabatan selalu,