Wednesday, 13 February 2019

Mengembalikan Fungsi Hutan dan Manfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu


Hutan merupakan sekumpulan tumbuhan dewasa yang mempunya tinggi lebih kurang 5 meter dan kanopi/daun yang rindang, Dengan adanya hutan pula, dapat di gunakan sebagai tempat tinggal bagi makhluk hidup dan sumber daya alam yang sangat berguna. Selain itu hutan juga merupakan paru-paru dunia yang dapat menyerap karbondioksida dan menyediakan oksigen bagi kehidupan dimuka bumi ini.

Makhluk hidup di dunia ini sangatlah bergantung kepada hutan karena sangat banyak fungsi hutan bagi makhluk hidup itu sendiri. Hutan juga dapat menjadi salah satu sumber ekonomi bagi manusia, sebab dengan hutan, dapat di hasilkan dari pohon-pohon yang dimiliki hutan tersebut. 

Selain itu, hutan juga berfungsi sebagai habitat bagi flora dan fauna karena dengan adanya hutan flora dan fauna yang ada di dunia ini dapat hidup dan mengembangbiakkan habitat mereka. kata Ibu DR Amanda Katili Niode selaku Manager The Climate Reality Project Indonesia diacara Forest Talk With Blogger yang diselenggarakan bekerja sama dengan Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) di Jakarta pada tanggal 9 Februari 2019, Selain Ibu Amanda hadir juga 
  • DR Atiek Widayanti dari Tropenbos Indonesia 
  • DR Sri Maryati Direntur Eksekutif Yayasan Balantara 
  • Ir Murni Titi Resdiana, MBA Asisten utusan khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim 
  • Myra Widodo dari Rumah Rakuji 
  • Riza Amala perwakilan dari Javara Indonesia 
Mengembalikan Fungsi Hutan dan Manfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu
Hutan juga berfungsi untuk mencegah terjadinya bencana-bencana yang dialami masyarakat saat ini. Seperti bencana  penyebab banjir dan tanah longsor hutan akan menyerap air-air yang melimpah, bencana longsor yang akan di alami oleh masyarakat yang bertimpat tinggal di tebing-tebing hutan akan menjaga keteraturan permukaan tanah pada bagian tebing tersebut.


Ki-ka : Ibu Amanda, Ibu Atiek Widayabti, Ibu Sri Maryati dan Ibu Murni Titi
Lalu bagaimana jika fungsi hutan itu sudah tidak ada dikarenakan adanya ilegal loging (penebangan liar), perluasan untuk pemukiman , perkebunan, maka lambat laun akan hilang fungsinya dan menyebabkan perubahan iklim yang ekstrim, bencana alam, erosi , longsor dan banjir.

Diperlukannya cara melestarikan hutan yang bisa dilakukan sebagai berikut :
Melakukan reboisasi
Reboisasi adalah salah satu alternatif untuk mengembalikan funsi hutan. Reboisasi itu sendiri adalah menanam kembali hutan-hutan yang sudah rusak , yang di kira tidak layak lagi untuk di tempati dan digunakan oleh makhluk hidup, sehingga hutan akan tetap terjaga keberadaannya dan tetap bisa di gunakan oleh manusia dalam ruang publik kehidupan.

Dengan memilih pohon yang multi fungsi, yang bisa diambil bagiannya juga sebagai obat. Bisa dikatakan menanam pohon untuk ekonomi kreatif kata Ibu Ir Murni Titi Resdiana 

Menerapkan sistem tebang pilih dan sistem tebang tanam 
Sistem tebang pilih. Dengan adanya sistem tebang pilih ini, akan dapat mengurangi dampak penebangan hutan secara liar dan dalam jumlah besar-besaran. Sistem ini biasanya menebang pohon yang usianya sudah tua. yang kemudian diganti untuk menanam kembali. Agar hutan tetap terjaga keberadaannya. 

Memberikan sangsi bagi penebang liar. 
Walaupun sudah ada peraturan undang-undang No.18 tahun 2013, tentang penebangan liar akan tetapi dampaknya tidak terlalu dihiraukan bagi penebang liar, kurangnya pengawsan mungkin salah satunya. Harus benar adanya sangsi sehingga hutan bisa terjaga. Dan tidak ada lagi kasus penebangan liar yang luput dari pengawasan pemerintahan maupun otoritas hutan setempat. 

Memaksimalkan Hasil Hutan Bukan Kayu 
Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Pengertian lainnya dari hasil hutan bukan kayu yaitu segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain.

Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan kegiatan tradisionil dari masyarakat yang berada di sekitar hutan, bahkan di beberapa tempat, kegiatan pemungutan hasil hutan bukan kayu merupakan kegiatan utama sebagai sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. seperti pembinaan yang diberikan oleh Ibu DR Sri Maryati Direktur Yayasan Balantara di sebuah pesantren di daerah Kalimantan.

Ibu Myra Widodo
Hasil dari Serat Ulap Doyo


memakai pewarna alami
Sebagai contoh, pengumpulan rotan, pengumpulan berbagai getah kayu seperti getah kayu Agathis, atau kayu Shorea dan lain-lain yang disebut damar. Kata Ibu Myra Widiono, pendiri rumah Rakuji yang juga Ketua Perkumpulan Pewarna Alam Indonesia menyampaikan bahwa sejumlah produk kerajinan Indonesia yang ramah lingkungan memperoleh penghargaan World Craft Council. Karya para artisan Indonesia itu antara lain ulos Harungguan, selendang tenun Pileh, tenun Gringsing dengan pewarna indigo dan mengkudu, tenun ikat ulap doyo dan tas laptop dari anyaman bemban. 

Siapa sangka kalau daun bisa dirubah menjadi kain batik. Kreatifitas orang Indonesia memang sudah menembus batas terutama di bidang kerajinannya. Inilah kisah kain Ulap Doyo, satu buahnya dijual Rp.1,5 juta. Batik khas Kalimantan ini merupakan hasil kerajinan sebuah desa bernama Desa Tanjung Isuy. Bahan dasar utamanya adalah daun.

Prosesnya dimulai dari pengambilan serat pada daun. Seratnya itu dikeringkan kemudian dijadikan benang kemudian ditenun. Lalu diwarna dengan pewarna alam. Proses selanjutnya sama halnya dengan produksi batik biasanya.


Produk dari Javara Indonesia
Hasil dari Produk Javara Indonesia
sumber gambar Instagram Javara Indonesia
Ada lagi produk dari Javara Indonesia yang mengunggulkan produk pangan yang ditanam secara organik oleh petani Indonesia. Untuk tiap produk, ujar Ibu Riza Amala perwakilan dari Javara Indonesia. Javara mengemasnya secara eksklusif dan menonjolkan sisi kearifan budaya Indonesia yang kental. Misalnya, produk beras Javara dinamai dengan nama khas Indonesia seperti, Andel Abang, Cempo Merah, Wangi Menyan, Jenggot Netep dan Menthik Susu, dikemasnya dengan berat antara 400 gram dan 5 kilogram.
Berbeda dengan kemasan beras pada umumnya, Javara mencantumkan kisah proses pembuatan produknya yang sehat dan diproduksi oleh petani yang ada di daerah terpencil Indonesia.

Kini, produk Javara telah tersebar di 23 negara yang ada di lima benua. Javara pun menggandeng puluhan ribu petani lokal untuk dipasarkan produknya di dunia internasional. Petani sekarang ada 54.000. Bukan hanya beras saja yang menjadi produk andalan Javara. Produk makanan asli Indonesia lainnya yang juga disukai warga asing adalah produk gula semut alami atau coconut sugar.

Varian rasa yang beragam seperti original, vanila, jahe, temulawak dan kunyit membuat warga asing selalu ketagihan untuk menggunakannya sebagai campuran makanan dan minuman. Setidaknya ada sekitar 800 jenis produk Javara mampu menembus pasar global. Jenis produk dari beras, kopi, madu, aneka rempah, kokoa, kacang mete, gula aren, minyak kelapa, selai, pisang, bumbu, rumput laut dan berbagai jenis produk lainnya berhasil mendapatkan apresiasi dari sejumlah negara lain.

Tentang Yayasan Doktor Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia
Sebenarnya banyak sekali manfaat hasil hutan bukan kayu yang bisa kita manfaatkan tanpa harus merusak hutan, yang akan mengakibatkan kerugian bukan hanya pada masyarakat tapi juga perubahan iklim yang ekstrim semoga apa yang dilakukan.

Yayasan Doktor Sjahrir yang merupakan organanisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan Dr Sjahrir (alm) yang bergerak dibidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan yang dalam dua tahun ini telah melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas kepada masyarakat akan pentingnya aksi nyata menghadapi perubahan iklim global dan khususnya menjaga kelestarian hutan ini bisa terus belanjut dan menjadi cikal bakal untuk melindungi hutan.

Sedangkan The Climate Reality Project Indonesia yang merupakan bagian dari The Climate Raelity Proect yang berbasis di Amerika Serikat yang dipimpin oleh mantan wakil Presiden Al Gore, memiliki lebih dari 300 relawan di Indonesia yang juga fokus melakukan sosialisasi perubahan iklim dan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dan solusi

Nah, kita bisa melakukan hal-hal kecil yang bisa membawa banyak manfaat seperti mengurangi limbah plastik, menanam tanaman disekitar rumah kita agar bisa mendapatkan oksigen murni.

Semoga bermanfaat ya.
Rakuji House
Shelter for culture art and craft
Jl. Bunga Mawar No 8
Cepete Jakarta Selatan
www.rumahrakuji.com

Javara Indonesia
Graha BS Ground Floor
Jl. Kemang Utara A No.3
Bangka Mampang Prapapatan Jakarta Selatan
www.javara.cp.id



No comments :

Post a comment

Terima kasih sudah meninggalkan jejak di blog saya mudah-mudahan bermanfaat, Jangan tinggalkan Link URL BlogPost ya,,, makasih­čÖĆ