Senin, 16 Januari 2017

Hilangnya Nyawa Sebuah Desa,,




Sejenak  saya akan menceritakan tentang desa kelahiran kedua orang tua saya, namanya Desa Halimpu  dulu ketika saya kecil atau masih duduk di sekolah Dasar ibu saya sering sekali mengajak liburan ke sana, di Jakarta bapak bekerja sebagai pegawai negeri pegawai tata usaha di sebuah Sekolah Dasar, sewaktu liburan dulu, benar-benar seperti layaknya sebuah desa persis seperti buku pelajaran, sejuk , banyak pepohonan dan sawah yang terbentang, saya masih merasakan bagaimana menggigilnya mandi setelah sholat shubuh dingin yang luar biasa, bicarapun masih mengeluarkan asap, seperti layaknya maaaf orang merokok.


Saya masih ingat dulu pernah diajak mencari lindung dan siput sawah, itu pengalaman yang luar biasa di Jakarta sama sekali ngga ada, begitu mudanya mencari siput sawah tinggal menyibakkan sedikit tanaman padi pasti sudah ketemu atau disela-sela pematangan sawah, setelah terkumpul ikut makan bersama di masak oleh bibi adiknya ibu.

Kadang saya pernah di ajak panen kacang tanah, milik uwak saya, senanglah karena dari yang kita dapat kita mendapat upah walaupun upah itu cukup hanya membeli sebuah permen yang bikin senang lagi dapat makan gratis, ingat waktu makan Cuma dengan ikan asin, goreng tempe, sambal dan ongseng kacang panjang campur putren (jagung muda) rasanya nikmat banget.

pingir jalan ini dulu sawah yg terbentang luas



Tapi kini, setelah  25 tahun lewat hawa dingin berubah menjadi panas persis hawa Jakarta, sawah yang dulu membentang, di bangun perumahan, hmm anehnya ada beberapa cluster dan residance entah dibangun untuk tujuan apa?, tidak ada lagi kunang-kunang yang biasa berkelap-kelip di malam hari pemandangan itu dulu sering saya lihat ketika pulang dari sholat tarawe di mushola balai desa, jarang terdengar suara katak jika hujan, apalagi jangkrik, mandi pagipun sudah tidak semenggigil dulu. Sedih sih,, karena ketika saya membawa anak-anak saya ke rumah mbahnya pengalaman sewaktu saya kecil mereka tidak merasakan lagi.

Akibat dari banyaknya perumahan dan pohon-pohon yang ditebangi kira-kira jarak 500 meter dari rumah ibuku mereka merasakan sulitnya air, saat musim kemarau sumur-sumur semuanya kering hampir 80% masih menggunakan sumur timba, alhasil mereka  setiap pagi dan sore mengambil air di sumur mushola yang Alhamdulillah airnya tidak pernah kering karena mungkin dekat dengan pinggir parit yang sudah diperbaharui, padahal dulu mushola berada dekat dengan sungai yang besar tapi lama kelamaan sungai itu mengecil menjadi parit yang lebarnya mungkinr sekita 25 meter kurang. Dulu saya ingat betul pernah berenang di sungai itu bersama teman-teman saya.


.
Saya bukan termasuk orang yang menolak suatau desa maju tapi jika desa itu kehilangan ciri khasnya duhh alangkah sayang bagi saya, mereka dulu sangat bahagia dengan kesederhanaan tidak pernah merasakan sulitnya air, menikmati udara yang benar-benar bersih, tapi sekarang  banyak sekali sawah-sawah yang dijual kemudian pembeli membangun perumahan-perumahan tanpa memperdulikan keadaan ekosistem sekitarnya. Hanya berharap saja pada pihak terkait  jika ingin membangun  sebuah desa tidak hanya melulu mementingkan pundi-pundi uang dengan membangun cluster atau residence, Apabila tanah itu benar-benar dikelola sebagai persawahan atau ladang pasti akan menghasilkan, dan hendaknya ekosistem desa tetap di jaga. hingga tidak ada pihak yang dirugikan.



Mungkin sawah yang tersisa bisa dihitung dengan jari termasuk sawah ibu saya yang berada persis pinggir jalan desa sudah banyak sekali yang menawar untuk dibeli, tapi ibu saya tetap mempertahankannya, bukan sombong tapi apabila dijual  kemudian dijadikan perumahan lalu apa yang tersisa kenangan bersama bapak saya almarhum?, bagaimana nanti ibu saya akan bercerita kepada cucu-cucunya tentang bagaimana peluhnya kakek bekerja di Jakarta hanya sebagai pegawai negari golongan IIA tapi bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli sawah, yah... mudah-mudahan sawah itu tetap ada sampai anaknya saya mempunyai cucu atau cicit. Walaupun tidak luas tapi ciri khas Desa tentang sawah yang terbentang itu masih ada pada peninggalan kakeknya.

(liburan Januari 2017)

Rabu, 11 Januari 2017

JEUNESSE IA, SEMPURNAKAN KULIT UNTUK TAMPIL LEBIH MUDA




JEUNESSE IA, SEMPURNAKAN KULIT UNTUK TAMPIL LEBIH MUDA

Siapasih yang tidak ingin terlihat muda? padahal usia sudah beranjak ke angka 30an atau 40an, pasti semuannya, sayapun mau,, hehe bukan menolak tua tapi maunya sih terlihat muda terus walaupun sudah punya anak-anak yang beranjak kian besar, wajah tetap remaja seperti anak SMA, penasaran ini ulasan saya waktu menghadiri acara media gathering





Tanggal 10 Januari 2017 bertempat di Hotel & Resort Pullman Jakarta Barat PT. JEUNESSE GLOBAL mengundang para blogger untuk lebih memperkanalkan productnya yaitu luminesesce Youth Restoring Cleanser dan Liminesce Ultimate Lifting Masque atau lebih mudahnya dikenal dengan cleanser dan masker, kedua produk ini bersala dari Amerika Serikat,   kata Bp. Hari Utomo, General Manager Jeunesse Indonesia  produk ini terlahir karena kita perduli dengan permasalahan kulit, siapa sih yang tidak ingin terlihat muda sehat dan cantik pasti semuanya menjawab mau.  Produk ini bisa mengembalikan keremajaan tubuh pada tingkat sel dan melawan penuaan dini, membersihkan, meremajakan , melembabkan , memperbaharui kulit dengan menggunakan teknologi sel induk modern.



Untuk mendapatkan produk ini terlebih dalu kita harus menjadi member karena produk ini tidak dijual dipasaran secara konvesional karena ini langkah ekslusif untuk menjaga keaslian product dan untuk membuktikan bahwa product Jeunesse tidak mudah ada yang meniru atau disebut juga barang KW, kita bisa datang ke APL Tower lantai 33, unit T-1, Central Park Mall, sasaran dari produk ini adalah kelas menengah ke atas. Dan produk ini bisa dipakai oleh kaum laki-laki 

Seperti kata Bapak Nanang Marketing dari JEUNSSE GLOBAL  mulai sekarang kita mengoreksi kesempurnaan pada kulit kita dengan cara yang aman, karena keseluruhan produk ini terbuat dari bahan herbal dan ada BPOM juga halal, hasil instan tapi tepat pada sasaran karena bekerja di dalam dengan Stem Cell yang bersal dari tubuh kita sendiri, JEUNESSE IA hanya membantu mengembalikan keremajaan kulit. dengan tekhnologi dari produknya.

Selanjutnya Dr. Kardiana Purnama , Sp KK, ini menyatakan menjadi Tua pasti tapi untuk tampil muda dan sehat kitalah yang menentukan sendiri , merawat kulit terutama daerah wajah adalah suatu keharusan jika memang kita peduli dengan keadaan kulit kita, dengan pola tidur yang cukup, gaya hidup dan juga pola makan adalah merupakan pemegang peranan penting selain pengaruh cuaca.  Karena penuaan itu bersifat alami dan setiap orang pasti mengalaminya, Selanjutnya Dr Kardiana yang cantik ini memberikan tipsnya :


1. Membersihkah wajah secara rutin
2. Menggunakan pelembab karena semakin bertambah usia maka kelembabab pada kulit akan berkurang.
3. Menggunakan produk yang dapat membantu mencegah penuan.
4. Cukup vitamin C dan E
5.Tidak menggunkan bahan yang bersifat iritatif ( atau instan, tapi berbahaya seperti kram yang mengandung bahan mercury.
 
Untuk pruduk yang benar-benar aman JENUSSE IA bisa direkomendasikan, dan caranya pun sanggat mudah hanya dalam waktu 2 menit kita bisa memperoleh hasil yang menakjubkan.




§       Bersihkan wajah dengan LUMINESCE Cleanser dengan air hangat tuangkan secukupnya , buat busa dengan tangan , bersihkan wajah dan leher dengan gerakan melingkar secara seksama, bilas hingga bersih dan keringkan dengan lembut,  cleanser ini efektif membersihkan dan mengangkat sel kulit mati dan menyegarkan kulit. Untuk hasil yang terbaik gunakan pada pagi dan malam hari.





Kemudian lanjutkan pemakaian LUMINESCE  Masque, oleskan masker ini secara merata pada wajah dan leher dengan gerakan memutar dan ditepuk-tepuk biarkan selama 2 menit kita akan merasakan seperti ada rasa kencang atau tarikan pada kulit , kemudian setelah itu angkat masker dan cuci wajah dengan air hangat, untuk baiknya gunakan satu sampai dua kali seminggu. Masker ini berguna untuk membantu kembalikan tampilan kulit kencang dan muda. Masker ini menggabungkan antioksidan menyegarkan dengan teknologi stem cell, formulanya berasal dari tumbuhan eksotis yang ditemukan jauh di dalam hutan liar Andes.





Merawat kulit memang butuh biaya tapi kalau hasilnya maksimal dan benar teruji rasanya biaya seberapapun menjadi tidak seberapa, apalagi hasil yang sempurna yang kita dapatkan. Untuk lebih jelas tentang produk dari PT. JEUNESSE GLOBAL 

 APL TOWER, lantai 33, Unit T-!, Central Park Jl. Letjent S. Parman Kav 28, Jakarta Barat. Indonesia




 

Jumat, 30 Desember 2016

Behind the story "om telolet om"



Behind the story “om Telolet om”
(Versi di sebuah Desa di daerah Cirebon, Kuningan)



Sebut saja Kurni dia lebih tua usia 4 tahun dari saya, wajahnya memang cantik, cantik alami gadis desa, lahir dari keluarga yang sederhana. Dia dulu adalah teman main saya ketika saya sering liburan sekolah di sebuah desa di Cirebon Kuningan sebut saja Desa itu bernama Desa Welas,
Rata-rata di desa welas penduduknya adalah petani dan pengrajin bambu, bambu dibuat bilik yang dulu dibuat sebagai dinding rumah hmmm sampai sekarang pun ada seperti rumah kurni rumahnya masih setengah bilik, lantainya masih tanah merah,  kamar nya pun masih disekat dengan bilik dengan ruangan yang lainnya.

Selepas sekolah dasar Kurni tidak melanjutkan sekolahnya karena dia anak ke dua dari lima bersaudara kakaknya sudah menikah sedangkan ke tiga adiknya semua laki-laki, otomatis jadilah dia sebagai ibu kedua bagi keluarganya dia yang mencuci  baju seluruh keluarganya dan memasak karena kedua orangtuanya menghabiskan hampir tiga perempat harinya menggarap sawah. Selama menunggu panen bapaknya membuat anyaman bambu, dengan dibantu ketiga adik-adiknya.  Ketika usianya genap 15 tahun, Kurni ditawari kerja di sebuah restoran pinggir jalan raya tempat isitirahat para bis luar kota, selang dua tahun dia bekerja disana, dia kenal dengan seorang laki - laki bernama Sastra mungkin karena seringnya tiap hari bertemu timbul rasa suka pada keduanya, dan akhirnya mereka menikah tapi Kurni bukan sebagai wanita pertama,  dari pernikahan Satra , waktu itu Bapak dan ibunya serta kakaknya sudah memperingati agar tidak terburu-buru menikah tapi cinta sudah berkata lain, walaupun hanya menikah siri  dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman Sastra yeng berprofesi sebgai supir dan kernet.

Beberapa bulan kemudian Kurni hamil dan dia berhenti dari tempat kerjanya,  Sastra sang suami dalam sebulan hanya datang dua atau tiga kali mengngunjunginya, tapi sebagai janjinya setiap lewat ujung jalan didesanya Sasta akan memencet klakson sebagai pengganti kehadirannya, dan sebagai obat kengen kepada Kurni. Dan hal itu ditepatinya Kurni hanya tersenyum kemudian mengelus perutnya yang semakin membesar telolet,, telolet,, bapakmu lewat nak, bisiknya pelan,,,

Dan ketika anaknya lahir Sastra begitu senang karena Kurni melahirkan seorang anak laki-laki konon katanya istri pertamanya  tidak mempunyai anak, dan anak itu diberi nama Ari,  walaupun itu tetap tidak merubah kunjungan Sastra ke Kurni akhirnya dari uang yang diberikan Sastra Kurni dapat membuat rumah sederhana   yang berjarak 200 meter dari rumah orangtuanya, ketika anaknya sudah bisa bicara Ari pernah berkata kepada Bapaknya,

 “kunaon Bapak teh gening teu bisa meting di imah lila, ngan dua dinten terus indit,,? (kenapa bapak ngga bisa lama tinggal dirumah cuma dua hari terus pergi?)

“Bapak teh,, milarian icis jeng sekolah Arinya, jadi ari kudu pinter, jaga mimih,,,!” Tapi Bapak jangji mun bapak liwat di jalan harep bapak nyalukan mimih jeng Ari  Tet,, tet,,, eta artina Bapak kangeng ka Ari jeng Mimihnya!” kata Sastra sambil memeluk anaknya erat. (Bapak harus cari uang, jadi Ari harus pinter jaga mimih ya, tapi Bapak janji kalau lewat jalan depan desa bapak akan mencet klakson tet,,tet,, itu artinya bapak kangen sama Ari dan Mimih ya,,,)

“Sanes tet,,tet,, Bapak cek Mimih mah,, telolet ,, telotet kitu” (bukan tet bapak tapi kata mimih telolet telolet gitu ).

Ari dan Kurni selalu tahu jadwal bapaknya memencet klakson yaitu pada pukul 12 lewat,  dan menjelang maghrib dia hapal betul suara klakson bapaknya walaupun semua bis rata-rata sama bunyinya, dia akan bilang ke mimihnya

 “Bapak,, mihhh!”  dan Kurni hanya mangaguk dan tersenyum kelu mungkin menahan rasa kangen atau sedih yang tertahan.

Ketika usia Ari 5 tahun tepat waktu itu hari minggu Bapaknya mengajak Ari untuk sholat shubuh di mushola depan balai desa  selama berjalan ke mushola Ari digendong di belakang dan tidak henti dari mulut keduanya bersenandung telolet telolet,, dan ternyata itu hari terakhir dia bersama bapak gendongan terakhir sang Bapak , karena beberapa hari Sastra tidak lagi datang waktu itu belum ada telpon genggam, Kurni mendapat berita dari kernet yang bernama Iwan  yang datang kerumahnya bahwa Sasta mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat. Iwanpun terluka tapi tidak terlalu parah. Waktu itu Kurni hanya bisa menagis dan memeluknya erat Ari dan berkata bahwa Bapak tidak akan datang lagi kesini karena telah pergi jauh,. Ari tidak mengerti dia hanya ikut menangis, Iwan iba dan mengendong Ari,,

 “Ari,,,,  Om jangji om ngke datang kedie  deui ulin jeng Ari jeng mencet klaksan kanggo Ari jeng Mimihnya,” kata Iwan sambil mengelus kepala Ari. (Ari om janji om akan sering main kesini dan memencet klakson buat Ari dan Mimih ya)

Dan tepat ketika siang itu jam 12;30 klason terdengar tapi Ari seakan tahu mungkin ada kontak batin,, hatinya tidak seriang dulu matanya tidak berbinar seperti sebelum-sebelumnya,,, berkata kepada mimihnya

“Sanes Bapak ,,, mih,,!” ujarnya pelan sambil terisak,,  (bukan Bapak,, mih.!”)

“nya,, Ari,,, eta Om Iwan…! Jik atuch tingali kajalan esukannya, mugi aya Bapak ningalian Ari ti jauh,,,!” kata Kurni sambil membelai rambut Ari. (Iya Ari,, itu Om Iwan coba Ari kejalan besok mudah-mudahan Bapak melihat Ari dari jauh,,)

“Aya bapak kitu di bis,,ningalian Ari,,,?” kata Ari mulutnya kembali tersenyum. (Ada Bapak di bis melihat Ari?..)

Kurni hanya mengangguk sambil tersenyum. Dan semenjak itu Ari selalu berlari ke depan jalan menunggu bis yang dulu disupiri Bapaknya dan ketika lewat dia akan berteriak Om telolet om,,, dan Iwan sang Supir yang menggantikan Sastra sang Bapak, sudah hafal betul sambil melambaikan tangngannya dia memencet klakson,  ada rasa bahagia dan kegembiraan yang lain walaupun Ari tahu sang bapak tidak pernah datang lagi dan dia akan berlari pulang penuh dengan tawa
____


Ari dan Kurni tidak tahu bahwa “om telolet om” sudah mendunia dan kini usia Ari sudah 17th dan dia pun tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan ketika kecil kini menjadi fenomenal, Ari menjadi pemuda yang lebih pendiam dari yang lain,  sekarang dia bekerja di pabrik rotan sekolahnya pun hanya lulusan sekolah dasar  dan Kurni telah menikah lagi kadang kata Kurni  pernah sesekali melihat Ari duduk di ujung jalan sambil menatap bis yang lewat entah apa yang ada di dalam hatinya, mungkin masih ada rasa kangen atas kehadiran sang Bapak.


(ini hanya sebuah versi lain yang saya tahu dan tidak tahu apakah om telolet om yang sedang mendunia ada cerila lainnya lagi... )