Taman Ismail Marzuki (TIM) jadi saksi lagi nih untuk perhelatan akbar IMAC Film Festival 2026, kali ini sudah memasuki tahun ke-3. Dan aku berkesempatan datang lagi ke dua kalinya. Tahun ini mengusung tema Resilience yang artinya mengajak masyarakat untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga terus bertumbuh di tengah berbagai tantangan global.
Sedikit info IMAC ini merupakan festival film pendek yang diselenggarakan kolaborasi Komunitas Suka Sinema dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB). Festival ini didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI dan Kementerian Kebudayaan RI. Tahun ini pertama kalinya berstatus internasional.
Festival ini sebelumnya menjaring 282 film pendek dari pelajar dan umum. Karya yang masuk berasal dari 18 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brasil, sampai Afrika Selatan.
Acara sebelumnya dimulai pukul 14:00 karena memang sudah terbiasa on time aku sudah datang pukul 13:00 rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sineas-sineas muda yang keren apalagi hari terakhir ini merupakan pengumuman para pemenang. Sayang banget sih acara ternyata molor hampir 2 jam kami menunggu untuk masuk ke ruangan Pemutaran Asrul Sani.
Semoga ini jadi catatan penting untuk para panitia karena IMAC sudah mau masuk ke taraf Internasional harusnya bisa on time. Apalagi hadir para juri internasional salah satunya berasal Malaysia, yaitu Yow Chong Lee dan Filipina .
Para Pemenang IMAC Film Festival 2026:
Akhirnya pukul 15:20 kami masuk ke ruangan dan hadir juga Ketua Pelaksana IMAC 2026, Sri Bandoro, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI Cecep Rukendi, dan Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik.
Acara pengumuman pemenang dimulai dengan tarian dari daerah Jakarta, dan dan beberapa sambutan, Sri Bandoro selaku Ketua Pelaksana IMAC 2026 mengatakan, melalui IMAC, pihaknya ingin menghadirkan karya-karya yang tidak hanya kuat secara cerita, tetapi juga mampu menyampaikan pesan mendalam tentang perjuangan dan harapan. ”Festival ini juga menjadi milestone penting dalam langkah kami menjadi festival film bertaraf internasional."
Sedangkan Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI Cecep Rukendi, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan IMAC Film Festival yang kini memasuki tahun ketiga. Ia menilai festival ini memiliki peran penting sebagai ruang inkubasi bagi talenta muda sekaligus sarana promosi karya sineas Indonesia.
“Ke depannya, kolaborasinya perlu ditingkatkan, tidak hanya berjuang sesama filmmakers tapi juga harus berkolaborasi dengan subsektor lain di industri kreatif. Salah satu kelemahan pelaku film itu berjuang di sektor filmnya saja. Padahal kalau lihat dari film seperti James Bond, ini kolaborasi film makers, digital teknologi, AI, termasuk fashion, crafts, dan banyak lagi,”.
Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik menambahkan bahwa tahun ini menjadi tonggak penting dengan dilibatkannya juri internasional dari Malaysia dan Filipina. Hal itu menjadi langkah awal menuju visi IMAC sebagai festival film berskala global. ”Film bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium untuk menyampaikan nilai dan membentuk perspektif. Melalui film, kita dapat mengenal jati diri bangsa, merefleksikan masa lalu, dan membayangkan masa depan.'
Dan inilah para pemenang IMAC Film Festival 2026
- Best IMAC Film Camp diraih film Ngamlop karya SMAN 1 Parungkuda yang disutradarai Naupal Taufiqurahman.
- Kategori Best National Student Short Fiction dimenangkan We Don’t Know the Title Yet dari SMKN 2 Jakarta karya Nayaka Dimitry dan Christensen Kevin.
- Penghargaan Special Jury Mention Indonesia Short Fiction diberikan kepada Apocalypse Mart karya Dzauqy Ilham. Sementara Best Indonesia Short Fiction diraih The Night is Long and It’s Your Alone karya Guruh Nusantara.
- Untuk kategori dokumenter, Special Jury Mention Short Documentary diberikan kepada Talking to Family karya Shun-Yu Kwei dari Afrika Selatan. Adapun Best Short Documentary dimenangkan Birth Date karya Janssen Ewaldo.
- Di kategori internasional, Special Jury Mention International Short Fiction juga diraih The Night is Long and It’s Your Alone. Sementara Best International Short Fiction dimenangkan Nativity Scene karya Felipe Bibian dari Brasil.
Kebetulan kemarin diputar Film “Ngamplop” aku dibuat terkejut dan baru mengerti saat film itu berakhir. Ngena sekali keadaan yang ada di sekitaran masyarakat Indonesia, sedikit spoiler sulit sekali ketika kita menolong orang padahal ini tetangga dekat, sampai akhirnya harus menunggu meninggal dulu baru kita bisa memberikan bantuan, Ironis memang, harusnya ditengah keterbatasan kita bisa melihat kesulitan tetangga, terlebih anak piatu yang harus merawat ayahnya seorang diri.😔
Semoga dengan hadirnya IMAC Film Festival dari tahun ke tahun bisa tetap menjadi wadah bagi para sineas-sineas muda untuk tetap berkreativitas. Dan Film Indonesia tetap menjadi nomor satu di hati rakyat Indonesia tentunya. Penasaran jika teman-teman ingin datang ke acara IMAC tahun depan bisa follow instagram @imac.filmfest ya.,,☺️
utieadnu




