Wednesday, 12 August 2020

Tantangan Ibu Milenial Menciptakan Generasi Emas Saat Masa Pandemi

Tantangan Ibu Milenal Menciptakan Generasi Emas Saat Masa Pandemi
Seperti yang kita ketahui masa pandemi ini belum berakhir bahkan cenderung koban semakin meningkat hal tersebut tentu membuat kita khawatir akan keadaan ini. Akan tetapi langkah bijak yang kita ambil adalah tetap mengikuti protokol kesehatan.

Menjaga kebersihan sering cuci tangan, memakai masker jika harus udah keluar rumah. Apalagi khususnya kita para ibu sedikit lebih banyak bertanggung jawab akan kesehatan keluarga. Memberikan gizi yang baik agar tercipta generasi emas 2045 yang menjadi penerus bangsa ini.

Kemarin pada tanggal pada tanggal 11 Agustus 2020 saya mengikuti Webinar Nasional dengan tema Mencetak Ibu Milenal Pembangun Generasai Emas 2045 di Era Pandemi Covid19. Hadir sebagai pembicara yaitu:
  • Hj Khofifah Indar Parawansa sebagai Ketua Umum PP NU
  • Dr Hj, Erna Yulia Soefihara Ketua VII PP NU
  • Meida Octariana. MCN Asisten Deputi Ketahanan Gizi KIA
  • Arif Hidayat SE.MM Ketua Harian YAICI
  • DR. dr. TB. Rachmat Sentika Sp. A (k) MARS Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak
  • Ranti Hanna Sp. Seorang dokter anak dan perwakilan ibu milenial
Ada apa dengan ibu milenial? Ternyata menurut Ibu Meida permasalahan permasalahan gizi milenial adalah pola hidup yang tidak sehat, karena sering memakan makanan cepat saji yang tinggi gula, garam dan lemak, rendah serat, vitamin juga mineral. Kemudian lebih banyak duduk dengan gadget, menjadi kurang gerak dan waktu tidur terlalu larut dan tidak berkualitas. Yang tentunya nanti akan menurunkan hormon pertumbuhan. 

Tentu saja nanti akan berpengaruh bagaimana nanti jika mereka punya anak ?, cara memberi asupan sehari-hari akan berpengaruh dengan pola hidup sekarang. Ketika menjadi seorang ibu yang berperan penting dalam pemenuhan gizi keluarga, terutama di saat pandemi. Terlebih, banyak hal yang perlu diketahui agar keluarga mendapatkan gizi yang tepat dan imunitas meningkat. Terutama mengenai batasi gula, garam, dan lemak jenuh.

Ketiganya sangat berpengaruh pada kondisi imunitas tubuh. Misalnya saja asupan gula berlebih ini akan menghalangi masuknya vitamin C ke dalam sel. Pada akhirnya, meningkatkan jumlah mikroba negatif, menurunkan jumlah mikroba positif hingga melemahkan kerja darah putih yang berperan dalam fungsi tubuh. 

Jaga agar mempersembahkan gula pada makanan memperhatikan batasan kandungan gula per harinya, yaitu kurang dari 50 gram. Dengan demikian, para ibu harus memperhatikan beberapa asupan yang tinggi gula. Contohnya kental manis. Untuk 1/3 gelas saja sudah setara dengan kurang lebih 54 gram. Angka itu bahkan sudah melebihi dari batasan kandungan gula seharinya

Lalu apa yang dibutuhkan untuk hidup lebih berkualitas batasi konsumsi gula, garam penuhi protein selalu ada sayur, buah dengan jumlah yang tepat.

Salah Persepsi Pemberian SKM kepada anak-anak .

Sedangkan menurut Bpk. Arif masih banyak keluarga Indonesia dan ini telah di survei memberikan SKM sebagai pembeli susu kepada anak-anaknya. Dikarenakan harganya lebih murah, pengaruh iklan di televisi dan kurang edukasi. Sehingga angka anak kekurangan gizi setiap tahunnya semakin meningkat. 

Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memutus mata rantai salah persepsi masyarakat terhadap mempersembahkan SKM kepada anak-anak. Tentunya dengan memberikan pendidikan yang lebih, dari petugas puskesmas, posyandu dan kita sendiri hubungan tetangga dekat masih memberikan SKM kepada anak-anaknya. 

Kemudian menurut Dr Rachmat ada yang baik-baik saja di bawah usia 18 tahun, jangan konsumsi SKM terlebih dahulu, karena kandungannya gulanya hampir 80%, nah harus dimasukkan tentu tidak akan baik apalagi berkurang setiap hari.

Kemudian edukasi kepada ibu milenial diharapkan mengerti dan paham bahwa 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) sangat penting, dan berpengaruh kemudian terhadap tumbuh kembang anak. Penuhi kebutuhan nutrisinya, juga terapkan asuh, asih dan asah. Apalagi di saat pandemi ini, pola hidup sehat harus benar-benar diterapkan 

Tips Bagaimana Peran Ibu dalam Mendidik Pada Saat Masa Pandemi?

Selanjutnya Ibu Khofifah berkata, masa pandemi telah banyak mengubah sendi kehidupan, termasuk dalam keluarga, perubahan yang terjadi juda di sektor pendidikan yang membuat proses belajar mengajar harus dilakukan secara berani. Kondisi ini menjadikan keluarga terutama kalangan ibu rumah tangga memiliki peran yang jauh lebih besar, dan harus mampu beradaptasi di berbagai situasi.

Ibu menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Ibu wanita, tentunya dituntut untuk mampu mendampingi anak-anaknya sesuai dengan kondisi pandemi saat ini, seorang ibu harus paham dan bisa membimbing, menuntut, dan memonitor anak-anak dalam menggunakan gadgetnya. Sekaligus mencarikan peluang baru di dunia digital yang semakin banyak di era pandemi ini.

Pahami bahwa sekarang cenderung berpikir praktis, ingin kebebasan, dan butuh pengakuan, bisa menciptakan masa pandemi ini untuk meningkatkan ikatan dan kedekatan emosional dengan anak, serta memberikan keteladanan. Tak lupa pula sabar dan terus belajar. Hal ini mengingat mendidik anak yang bosan di rumah akan penuh tantangan.

Pandemi ini juga merupakan kesempatan bagi ibu untuk bisa lebih kreatif dalam memahami metode pembelajaran yang efektif bagi anak.

Pada webinar intinya, ajakan kita bersama untuk selalu mencari pola hidup sehat, memberikan nutrisi yang baik pada keluarga, pahami bahwa SKM bukan input susu, pun boleh dikonsumsi hanya sebagai topping makanan.

Serta di masa pandemi tetap mengikuti protokol kesehatan, jaga selalu menjaga kebersihan, hindari tempat berkerumun dan kita berdoa agar pandemi ini cepat berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasa. dan kita sebagai Ibu Milenial mampu menciptakan generasi emas walaupun saat pandemi ini.

utieadnu

 

13 comments :

  1. Menarik banget acaranya, Mbak. Sayangnya sebagian masyarakat enggak paham tentang SkM ini. Nganggapnya ngasih Susu buat anak. Mungkin karena harga susunya lebih terjangkau dari Susu lain.

    ReplyDelete
  2. ada 4 pilar yang wajib ibu milenial punya yaitu : melek teknologi, Pola Asuh sesuai zaman, kedekatan secara emosional, Sabar dan terus belajar. webinar ini sangat baik buat ibu muda untuk mendidik anak-anaknya

    ReplyDelete
  3. Di masa sekarang butuh ibu2 yg cerdas tangkas dan setroong ya
    Edukasi seperti ini kudi gencar lagii

    ReplyDelete
  4. Masa pandemi ini emang masa harus super kreatif ya buat emak². Harus mikirin bisnis tambahan, belom lagi anak2 yang harus sekolah daring, bikin ortu super kerepotan.

    ReplyDelete
  5. Senang ya pemerintah selalu aware pada kesehatan anak Indonesia
    Khusus nya edukasi gizi pada old period
    Sehingga blogger bisa sering sharing ke masyarakat

    ReplyDelete
  6. Mantap ya pemerintah, semakin peduli dgn kesehatan dan tumbuh kembang anak indonesia

    ReplyDelete
  7. Seru juga acaranya. Bisa meluruskan kesalahpahaman tentang konsumsi SKM nih. Suka kasihan kalau anak-anak dikasih minum SKM sebagai pengganti susu.

    ReplyDelete
  8. Menjadi orangtua itu ilmunya seumur hidup ya Mbak. Harus terus belajar. Baik dari pengalaman maupun dari berbagai sumber keilmuan

    ReplyDelete
  9. Aku seneng banget ngikutin tulisan bagaimana seorang ibu bisa survive di pandemi ini. Ngeliatnya kayak liat avenger gitu, superhero, karena banyaaaak yang butuh ibu, kayak ga ada yang bisa beresin kehidupan sehari2 kalo ga ada ibu gitu. Catatan banget untuk aku latihan sebelum jadi ibu. Makasih udah sharing kK

    ReplyDelete
  10. Sbg calon Ibu, saya rasa perlu belajar banyak-banyak soal parenting nih, salah satunya memberikan gizi yg baik bagi anak-anaknya kelak. Makasih infonya Mak :)

    ReplyDelete
  11. Asupan gula jadi momok banget baik buat orang dewasa maupun anak-anak. Segala sesuatu yang berlebihan memang ga baik, termasuk gula untuk tubuh.
    Kita buibu sebagai garda terdepan gizi keluarga memang harus aware ya tentang gizi begini...

    ReplyDelete
  12. Namanya susu kental manis. Tapi kandunganya tidak mengandung susu. Hehee.. Makasih ya mbak infonya. Memang jadi Ibu millenial sekarang harus bijak.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan jejak di blog saya mudah-mudahan bermanfaat, Jangan tinggalkan Link URL BlogPost ya,,, makasih­čÖĆ