Monday, 24 June 2019

Libur Hari Raya Idul Adha di Jogjakarta

Libur Hari Raya Idul Adha di Jogjakarta
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen yang paling ditunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Nah pada momen Hari Raya tersebut, setiap orang tentu memiliki aktifitas yang berbeda-beda. Salah satunya keluarga saya. 



Biasanya libur hati Raya Idul Adha kita semua kumpul di Jogjakarta di rumah besar ibu. Hal yang selalu dilakukan potong satu ekor sapi karena kebetulan keluarga besar jadilah kita semau patungan bersama untuk memberi satu ekor sapi untuk dipotong di hari qurban. Mau tahu rahasiaanya kenapa kita bisa melakukan hal ini setiap tahun?. Biasanya nih setiap bulannya kita ada iuran wajib untuk patungan hewan qurban jadi pas hari H-nya jika memang harga sapi melebih tinggal ditambah deh sisanya lumayan kan tidak terlalu besar.

libur hari raya idul adha di jogjakarta

Menyembelih hewan qurban hukamnya wajib bagi yang mampu dan satu amalan yang sangat di cintai oleh Allah swt, seperti sebuah hadist

“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” [HR. ibnumajah]

libur idul adha di jogjakarta

Tradisi Gunungan Grebeg Besar

Nah, di Jogjakarta ada tradisi yang unik setelah sholat Idul adha, namanga Gunungan Grebeg Besar yang berisikan makanan atau sayuran yang diarak keliling.  Acara ini biasanya dilakukan pada saat hari raya idhul adha, hari raya idul fitri dan Maulid nabi

Budaya tradisional, sudah lama berlangsung, konon katanya  sebagai simbol sedekah raja atau sultan kepada masyarakat,  biasanya banyak sekali wisatawan asing yang ikut meliput juga. Isi gunungan sendiri umumnya memiliki pakem tersendiri. Biasanya terdiri dari sayur-sayuran, telur asin, nasi dan lauk pauk.

Melambangkan bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan sifat-sifat manusia. Seperti telur asin yang melambangkan amal dan manusia baru, nasi yang melambangkan kemakmuran dari sebuah kerajaan, nasi uduk dengan lauk ayam, kedelai, dan pisang raja melambangkan kehidupan yang baik sedang yang dituju adalah untuk para nabi dan wali.

Nasi sayuran melambangkan kehidupan tercukupi duniawi, sedang yang dituju adalah para roh dan danyang, dan sega asahan bermakna untuk menyucikan lahir dan batin. Pada acara yang juga merupakan wisata budaya ini, sebanyak tujuh gunungan diarak dan dibagikan oleh Keraton JogJakarta kepada masyarakat.

Seusai shalat Idul Adha, para prajurit Keraton Jogjakarta telah bersiap untuk mengawal ketujuh Gunungan Grebeg Besar ini.Tidak hanya prajurit Keraton saja, masyarakat yang berkumpul juga tidak kalah ramai. Bahkan teriknya sinar matahari yang menyengat, tidak menghentikan animo masyarakat untuk menonton Gunungan Grebeg Besar.

libur hari raya idul adha di jogjakarta

Dalam acara Gunungan Grebeg Besar, dari tujuh gunungan, tidak semua gunungan dibawa ke Masjid Gede Kauman, tapi hanya lima saja. Satu gunungan dibawa menuju komplek kantor gubernur, lalu yang satu lagi diberikan ke Puro Pakualaman. Nah nanti masyarakat boleh mengambil apa yang ada digunungan grebes besar, konon kataya jika bisa mengambil rezekinya akan bertambah berkah. 

Penasaran dengan acara Gunungan Grebeg Besar, tradisi Idul Adha di Jogjakarta yang unik ini, bisa klik disini untuk jadi referensi bersama keluarga mengisi libur hari raya idhul adha di Jogjakarta.

utieadnu 

No comments :

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan jejak di blog saya mudah-mudahan bermanfaat, Jangan tinggalkan Link URL BlogPost ya,,, makasih­čÖĆ